Komunitas yang berkontribusi paling sedikit terhadap emisi global sering kali justru paling terdampak oleh kualitas udara yang buruk dan perubahan lingkungan (1). Sering disebut sebagai keadilan iklim—gagasan bahwa dampak lingkungan tidak dialami secara setara—ketidakseimbangan ini dibentuk oleh perbedaan infrastruktur, kebijakan, sumber daya ekonomi, dan kedekatan dengan sumber polusi.
Dari pembangkitan listrik hingga polusi perkotaan, ketidakadilan lingkungan yang tersembunyi memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan jangka panjang komunitas yang kurang terwakili. Seiring ketimpangan sistemik ini menjadi semakin terlihat, jalan menuju masa depan yang lebih bersih dan lebih sehat pun mulai muncul.
Beban polusi yang tidak setara
Pola global paparan yang tidak setara
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 99% populasi dunia menghirup udara tercemar, sehingga meningkatkan risiko kesehatan. Komunitas yang termarginalkan menghadapi kesenjangan terbesar, karena 97% kota di negara berpendapatan rendah dan menengah gagal memenuhi standar kualitas udara WHO, dibandingkan dengan 49% di negara berpendapatan tinggi (2)(3).
Kesenjangan ini bukan terjadi secara acak—melainkan mencerminkan perbedaan struktural dalam pembangunan, regulasi, dan akses terhadap sumber daya.
Lingkungan perkotaan dan panas
Di Delhi, India, sebuah negara berpendapatan menengah ke bawah, populasi yang padat dipadukan dengan melimpahnya emisi perkotaan dan kurangnya kebijakan lingkungan telah menciptakan tingkat panas yang sangat tinggi, yang juga dikenal sebagai Pulau Panas Perkotaan (4). Dikelilingi bangunan beton dan semen, panas mudah terperangkap di dalam bentang kota dan terus meningkat seiring waktu ketika emisi bahan bakar dilepaskan. Peningkatan suhu akibat polusi dapat memicu lingkungan dengan kualitas udara yang tidak sehat bagi individu, dengan kadar senyawa organik volatil (VOC) yang lebih tinggi dan penyebaran partikel polutan yang lebih cepat (5).
Artinya, komunitas berpenghasilan rendah—yang sering tinggal di area yang lebih padat dengan akses yang lebih sedikit ke pendinginan, ruang hijau, atau infrastruktur pelindung—dapat mengalami dampak paling intens baik dari panas maupun polusi.
Dampak lokal di Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, pola serupa juga dapat diamati di tingkat lokal. Di beberapa wilayah, komunitas berada sangat dekat dengan koridor industri, tempat paparan emisi jangka panjang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Salah satu contohnya adalah kawasan industri di sepanjang Sungai Mississippi di Louisiana, yang sering disebut sebagai “Cancer Alley,” tempat para penduduk tinggal di dekat fasilitas petrokimia dan pabrik manufaktur, yang juga dikenal sebagai komunitas garis pagar (fenceline communities) (6). Emisi polutan dapat meresap ke dalam pasokan air dan mengendap di permukaan, sehingga penduduk harus menghirup dan mengonsumsi kontaminan dalam jangka waktu lama. Bagian-bagian dari wilayah ini telah dikaitkan dengan beberapa perkiraan risiko kanker tertinggi akibat emisi udara industri di Amerika Serikat (7).
Dengan demikian, beban polusi dibentuk bukan hanya oleh geografi, tetapi juga oleh bagaimana komunitas ditempatkan dalam kaitannya dengan aktivitas industri—serta sumber daya yang tersedia untuk merespons.
Perubahan lingkungan dan tekanan pada ekosistem
Di Hutan Hujan Amazon, Amerika Selatan, deforestasi yang terus berlangsung telah menyebabkan penurunan curah hujan dan sumber daya tumbuhan alami (8). Deforestasi mengganggu siklus alami tumbuhan, yang menyebabkan perubahan iklim yang lebih besar dan berdampak pada masyarakat adat. Saat pohon-pohon dari hutan hujan ditebang, bahan bakar fosil terbakar dari mesin penebangan dan semakin sedikit material tumbuhan yang tersedia untuk menyerap kelebihan karbon dioksida, sehingga secara keseluruhan meningkatkan tingkat polutan udara.
Paparan jangka panjang terhadap polutan udara dapat menyebabkan komplikasi kesehatan kronis termasuk penyakit jantung, kanker paru-paru, dan masalah pernapasan. Komplikasi kesehatan dapat memengaruhi komunitas yang terpinggirkan secara tidak proporsional, karena individu di wilayah ini bisa lebih sulit mengakses obat yang terjangkau atau pindah menjauh dari polusi (9).
Pola-pola ini menunjukkan bagaimana polusi udara bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga persoalan kesetaraan—yang dibentuk oleh tempat tinggal masyarakat dan sumber daya yang tersedia untuk meresponsnya.
Mengungkap ketimpangan yang tersembunyi
Mengatasi kesenjangan ini sering kali dimulai dengan membuatnya terlihat. Memantau kualitas udara dan kondisi lingkungan adalah kunci untuk menyoroti ketidakadilan iklim yang tersembunyi, dari berbagai belahan dunia hingga lingkungan sekitar rumah seseorang.
Inisiatif global, seperti Schools4Earth, mendorong pemantauan kualitas udara secara aktif sekaligus mempromosikan pendidikan dini dan advokasi iklim. Schools4Earth berupaya menempatkan monitor kualitas udara di sekolah-sekolah di seluruh dunia untuk memotivasi siswa agar sadar lingkungan dan mengajarkan praktik pemantauan yang aman.
Di Yaoundé, ibu kota Kamerun, Franky Comprehensive Secondary School menjadi tuan rumah monitor kualitas udara berbasis kampus pertama di negara itu sebagai bagian dari inisiatif Schools4Earth. Data kualitas udara Kamerun masih terbatas, dan dengan memasang monitor pada tahun 2026, negara ini memungkinkan peningkatan kesadaran terhadap perubahan kondisi iklim udara. Monitor kualitas udara ini menjadi simbol bagi pendidikan lingkungan untuk siswa sekaligus pengawasan polusi udara waktu nyata demi keselamatan publik.
Seiring dengan inisiatif global, program yang dipimpin komunitas sedang membuka jalan baru agar ketimpangan lingkungan ini dapat ditangani dan dipantau.
Di Milwaukee, Wisconsin, warga setempat melihat konsentrasi tinggi polutan industri dan kendaraan yang terdapat di berbagai lingkungan berbeda di dalam kota pada awal tahun 2024. Akibat paparan jangka panjang, penduduk di wilayah tersebut mengalami serangan asma dan kondisi kesehatan yang memburuk. Untuk mengatasi tingginya tingkat polutan, warga memasang monitor kualitas udara di berbagai area yang tersebar di seluruh kota, sehingga memungkinkan masyarakat setempat memantau kondisi udara harian dan menanggapi peringatan polusi waktu nyata.
Di Nairobi, ibu kota Kenya, anggota komunitas telah bertahun-tahun berjuang menghadapi polusi udara jangka panjang dan emisi bahan bakar. Dibandingkan dengan negara berpendapatan tinggi, Kenya memiliki data kualitas udara yang sangat terbatas, sehingga warga tidak terlindungi dari tingkat polusi dan racun yang tidak diketahui. Untuk mengatasi kesenjangan data ini, anggota komunitas memasang monitor kualitas udara dengan Monster Aerosol System dan Time-of-Flight Aerosol Chemical Speciation Monitor. Teknologi ini menyediakan data waktu nyata beresolusi tinggi tentang partikel di udara—termasuk nitrat, amonium, dan klorida—yang mengungkap jejak kimia polusi.
Jalur menuju udara yang lebih bersih untuk semua
Melalui program global dan program berbasis komunitas, isu lingkungan menjadi semakin terlihat—dan dalam beberapa kasus, mulai membentuk respons kebijakan.
Pada tahun 2024, U.S. Environmental Protection Agency memperketat National Ambient Air Quality Standards untuk Particulate Matter, dengan menurunkan batas dari 12 menjadi 9 mikrogram per meter kubik (10). Standar yang diperbarui ini mensyaratkan konsentrasi partikel di udara yang jauh lebih rendah agar udara dapat dianggap aman. Pada tahun 2019, Eropa memperkenalkan European Green Deal, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk mengurangi emisi bahan bakar dan mencapai netralitas karbon sepenuhnya pada tahun 2050 (11).
Meningkatkan kualitas udara dalam skala luas memerlukan tindakan yang terkoordinasi di tingkat individu, komunitas, dan pemerintah (12), termasuk:
- Tindakan Individu: Mendukung inisiatif udara bersih, mengurangi emisi polutan pribadi, dan memperkuat suara kelompok yang terpinggirkan
- Tindakan Komunitas: Memasang monitor kualitas udara di sekitar lingkungan, membuat inisiatif yang dipimpin komunitas, dan mengajukan petisi di wilayah setempat untuk keamanan lingkungan
- Tindakan Pemerintah: Menerapkan standar emisi bahan bakar yang lebih ketat, berinvestasi dalam infrastruktur yang berkelanjutan secara lingkungan, dan mendorong program udara bersih di seluruh negeri
Mengatasi kesenjangan ini bergantung pada seberapa efektif upaya-upaya ini diselaraskan—memastikan bahwa beban polusi dikurangi, bukan dipindahkan.
Kesimpulan
Polusi udara dan perubahan iklim saling terkait erat, tetapi dampaknya tidak terdistribusi secara merata. Di berbagai wilayah dan komunitas, paparan ditentukan oleh infrastruktur, kebijakan, dan akses terhadap sumber daya.
Meskipun berkontribusi paling kecil terhadap emisi global, banyak komunitas berpenghasilan rendah menghadapi tingkat polusi tertinggi dengan sumber daya yang paling sedikit untuk merespons.
Diperingati setiap tahun pada tanggal 5 Juni, Hari Lingkungan Hidup Sedunia menyoroti bahwa peningkatan kualitas udara merupakan bagian dari upaya lingkungan yang lebih luas—dan langkah yang berarti menuju hasil yang lebih adil.









